Batu Ampar, - Dukungan warga terhadap investigasi mendalam dan transparan atas ledakan pipa gas bukanlah sikap berlebihan. Dukungan itu lahir dari trauma kolektif yang telah dipendam terlalu lama, akibat rentetan bencana yang datang bertubi-tubi dan seolah tak pernah benar-benar dijelaskan secara tuntas.
Pada akhir tahun 2024, Batu Ampar dilanda banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Air naik dengan cepat, melumpuhkan aktivitas warga, merusak rumah, dan meninggalkan pertanyaan besar tentang perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka.
Bagi warga, banjir itu bukan sekadar bencana alam biasa, ia terasa sebagai sesuatu yang asing, tidak wajar, dan mengusik ingatan akan eksploitasi alam di sekeliling kampung mereka.
Belum pulih dari trauma banjir besar tersebut, awal tahun 2026 warga kembali diguncang ketakutan yang jauh lebih mengerikan. Ledakan pipa gas di Batu Ampar memicu kobaran api besar disertai suara semburan gasyang digambarkan warga “seperti neraka terbuka”. Api menjulang, suara menggelegar, dan kepanikan meluas dalam hitungan detik.
Dalam situasi itu, satu kampung terpaksa melarikan diri.
Pintu-pintu rumah dibiarkan terbuka, harta benda ditinggalkan, karena yang ada di pikiran warga hanya satu: menyelamatkan nyawa. Anak-anak, orang tua, dan keluarga berhamburan keluar tanpa kepastian apakah mereka akan bisa kembali ke rumahnya dengan selamat.
Inilah konteks yang sering hilang dari laporan resmi.
Ketika pejabat berbicara tentang “prosedur”, “teknis”, dan “penyelidikan internal”, warga berbicara tentang rasa takut yang nyata, tentang malam tanpa tidur, dan tentang hidup di atas tanah yang terasa semakin tidak aman.
Oleh karena itu, ketika warga Batu Ampar kini mendukung penuh investigasi yang mendalam, terbuka, dan independen, itu bukan karena mereka ingin mencari kambing hitam. Itu karena mereka lelah menjadi korban berulang.
Pertanyaan yang mereka ajukan sah dan beralasan: Apakah semua ini kebetulan semata? Ataukah ada benang merah antara banjir besar yang tak biasa, sejarah blasting tambang batu bara, dan kini ledakan pipa gas?
Sekali lagi, kami tidak menuduh. Namun kami menolak untuk terus diminta diam.
Pemerintah dan perusahaan terkait wajib membuka seluruh data dan hasil investigasi kepada publik, melibatkan ahli independen lintas disiplin, serta memberi ruang bagi kesaksian warga yang selama ini hanya dianggap “cerita lapangan”. Jika memang tidak ada kaitan antara aktivitas eksploitasi masa lalu dan bencana hari ini, buktikan dengan kajian ilmiah yang transparan dan dapat diuji.
Namun jika ditemukan kelalaian, baik disengaja maupun karena pembiaran, maka menutupinya berarti memperpanjang penderitaan masyarakat.
Batu Ampar hari ini adalah cermin.
Cermin tentang bagaimana rakyat kecil sering kali harus menanggung dampak paling besar dari keputusan yang tidak pernah mereka buat.
Dan dari kampung yang pintu-pintunya pernah ditinggalkan terbuka karena panik, kini terdengar satu suara yang sama:
kami berhak aman, kami berhak tahu kebenaran.
Sumber: kesaksian warga Batu Ampar , rangkuman unggahan Facebook dan grup Whatsapp
