~Kalau aku ngecek daftar followingku, ternyata banyak rekan-rekan online ini yang pekerjaannya berhubungan sama acara pernikahan. Mulai dari crew WO meskipun cuma sidejob pas weekend, ada fotografer, jasa catering, ada Make Up Artist, pemain instrumen musik, bahkan terbaru yang juga menarik ada jasa lukis live wedding. Dari situ aku sadar, ternyata pernikahan itu bukan cuma urusan pasangan yang menikah, tapi juga menyangkut banyak profesi yang mendukung terwujudnya acara tersebut. Pernikahan, baik yang sederhana maupun mewah, bisa membawa rezeki ke banyak pihak.
Tapi yang menarik, kalau kita lihat dari perspektif abundance mindset, baik nikah sederhana maupun mewah sama-sama bisa membawa energi kelimpahan—asal dilakukan dengan kesadaran.
---
Abundance Mindset: Soal Energi yang Mengalir, Bukan Sekadar Angka di Rekening
Banyak orang mengira bahwa uang itu seperti kue yang terbatas. Kalau kita mengambil potongan besar, orang lain bakal kebagian lebih sedikit. Padahal, uang (dan rezeki) itu bukan seperti kue, melainkan seperti aliran air—dia bisa terus bergerak dan bertambah seiring perputarannya.
Carol Dweck, seorang psikolog yang terkenal dengan konsep growth mindset, bilang bahwa orang yang punya pola pikir berkembang (bukan statis) akan lebih mudah melihat peluang dan keberlimpahan di sekeliling mereka. Sementara Bob Proctor, pakar dalam bidang mindset kekayaan, menjelaskan bahwa uang itu energi—apa yang kita keluarkan akan kembali ke kita dalam bentuk lain.
Nah, kalau dikaitkan dengan pernikahan, baik yang sederhana maupun yang mewah, pertanyaannya bukan "lebih baik yang mana?" tapi "energi seperti apa yang kita pancarkan saat menjalani proses itu?"
Nikah Sederhana, tapi dengan Kesadaran
Sekarang ini di kalangan gen-Z lagi ngetrend memilih nikah sederhana. Akad di KUA, syukuran kecil, lalu fokus ke kehidupan setelahnya. Hemat, nggak ribet, dan katanya lebih realistis.
Keren dong? Tentu. Tapi, kalau dilakukan dengan energi keterbatasan—misalnya karena takut kehabisan uang, takut rugi, atau khawatir nggak bisa cari lagi—maka pernikahan itu malah bisa membawa pola hidup yang penuh kecemasan. Apalagi kalau trend ini dihasilkan dari skeptisisme yang dangkal, niat kesederhanaan jadi campur aduk dengan niat meremehkan perayaan besar.
Sebaliknya, kalau pernikahan sederhana dilakukan dengan kesadaran—misalnya karena memang paham level kemampuan/kecukupan, menikmati prosesnya, segala pihak legowo dan percaya bahwa rezeki bisa datang dari berbagai cara—maka energi yang dipancarkan adalah positif. Kecenderungan yang didapat ketika menjalani pernikahan adalah kedamaian.
