Nikah Mewah, tapi dengan Kesadaran
Di sisi lain, ada juga pasangan yang memilih pesta mewah. Venue besar, dekorasi fantastis, ratusan tamu, semua serba wah.
Kalau dilakukan dengan niat pamer atau gengsi, maka energi yang dipancarkan adalah ketakutan—takut nggak terlihat sukses, takut nggak memenuhi ekspektasi sosial, dan takut kehilangan validasi.
Tapi kalau dilakukan dengan kesadaran bahwa ini adalah bentuk berbagi dan mengalirkan rezeki ke banyak orang, maka energi yang terbentuk adalah kelimpahan. Bob Proctor pernah bilang, "The more money you circulate, the more will come back to you." Artinya, uang yang kita gunakan untuk membayar vendor, pemain musik, fotografer, sampai sopir yang ngangkut bunga, itu bukan hilang—itu bergerak dan bisa kembali dalam bentuk lain.
Dan, kalau kita percaya bahwa uang itu terus mengalir, kita nggak akan merasa berat saat mengeluarkannya. Sedekah itu banyak bentuknya, memberdayakan seseorang atau sebuah jasa itu juga sedekah, sekaligus meninggikan martabat orang-orang yang mau bekerja.
---
Pernikahan dan Energi Kelimpahan: Bukan Soal Jumlah, tapi Soal Niat
Jadi, baik nikah sederhana maupun mewah, yang paling penting adalah energi di baliknya alias landasannya.
Kalau kita menikah dengan rasa takut, entah takut miskin atau takut terlihat kurang sukses, maka setelah menikah pun pola itu bisa terbawa. Tapi kalau kita menikah dengan rasa cukup, syukur, dan kelimpahan, maka kehidupan setelahnya pun akan mengikuti pola itu.
Aku sendiri yang nulis ini pun bisa dapat kecipratan rezeki dari aktivitas perayaan pernikahan. Misal bikin kerajinan tangan sebagai souvenir, dan dari situ aku sadar bahwa sekecil apa pun peran seseorang dalam sebuah pernikahan, ada rezeki yang berputar.
