Selama ini, riba sering dipahami hanya sebagai bunga atas pinjaman atau praktik hutang yang mencekik. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, riba bukan sekadar eskalasi hutang, tetapi juga tentang ketidakadilan struktural di mana hak orang miskin diabaikan oleh mereka yang berkuasa.
Riba bukan hanya sistem ekonomi yang menindas, tetapi juga alat imperialisme modern yang memperbudak bangsa-bangsa. Untuk melawan dominasi ini, Islam menawarkan solusi yang fundamental: memerangi riba dengan ekonomi berbasis keadilan dan memperbanyak sedekah/sahbrut (sedekah brutal)—memberi tanpa batas, tanpa perhitungan, demi menciptakan dunia yang egaliter dan penuh keberkahan.
1. Riba: Ketika Orang Kaya Mengabaikan Hak Orang Miskin
Dalam Islam, kekayaan bukan sepenuhnya milik individu, tetapi ada hak orang miskin di dalamnya. Ketika orang kaya menimbun harta tanpa peduli pada yang lemah, inilah bentuk riba yang lebih berbahaya—bukan sekadar bunga pinjaman, tetapi pengabaian hak sosial.
Allah berfirman:
"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."
(QS. Az-Zariyat: 19)
Ketika harta hanya berputar di antara segelintir orang dan tidak mengalir kepada mereka yang membutuhkan, inilah bentuk eksploitasi yang menciptakan ketimpangan sosial. Riba dalam arti ini bukan hanya tentang pinjaman berbunga, tetapi juga tentang bagaimana sistem ekonomi dirancang untuk menindas yang miskin agar tetap miskin, sementara yang kaya semakin menguasai sumber daya.
2. Riba sebagai Senjata Imperialisme dan Otoritarianisme
Dalam skala global, sistem riba digunakan sebagai alat imperialisme untuk memperbudak bangsa-bangsa. Negara-negara berkembang dipaksa berhutang kepada lembaga keuangan internasional dengan bunga tinggi, sehingga mereka harus terus membayar cicilan tanpa pernah benar-benar bisa bebas dari jeratan ekonomi.
Allah sudah memperingatkan bahaya sistem ini:
"Jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu."
(QS. Al-Baqarah: 279)
Riba bukan sekadar eksploitasi individu, tetapi alat dominasi yang dipakai oleh korporasi global dan negara-negara kuat untuk mengontrol sumber daya dan menindas negara miskin. Imperialisme modern tidak lagi menggunakan senjata dan perang fisik, tetapi melalui hutang dan sistem ekonomi yang membuat negara berkembang bergantung selamanya.
Inilah bentuk otoritarianisme yang lebih halus, mengendalikan dunia melalui ekonomi berbasis riba. Kita tidak lagi dijajah dengan senjata, tetapi dengan hutang dan utang budi.
3. Perlawanan: Sedekah Brutal dan Revolusi Ekonomi Islam
Satu-satunya cara melawan riba bukan hanya dengan menghindarinya, tetapi dengan menghancurkan akar ketimpangan ekonomi dengan sedekah brutal. Bukan sekadar memberi dalam jumlah kecil, tetapi benar-benar membalikkan sistem dengan berbagi kekayaan masif hingga tidak ada lagi orang miskin yang tertindas.
Allah menjelaskan perbedaan antara riba dan sedekah:
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah..."
(QS. Al-Baqarah: 276)
Jika riba adalah akumulasi kekayaan yang hanya memperkaya segelintir orang, maka sedekah adalah solusi fundamental untuk mendistribusikan kekayaan dan membangun ekonomi berbasis keadilan.
Beberapa langkah yang dapat diambil adalah dengan berzakat sebagai instrumen distribusi kekayaan yang wajib, Sedekah brutal—memberikan harta tanpa batas hingga yang miskin tidak merasa miskin lagi.
Dengan paradigma ini, kita tidak hanya melawan riba, tetapi juga melawan imperialisme ekonomi yang menjajah dunia.
4. Mewujudkan Surga Egaliterian di Bumi
Islam tidak mengajarkan masyarakat berbasis hierarki ekonomi yang timpang. Sebaliknya, Islam mengajarkan konsep ekonomi egaliterian, di mana kekayaan tidak dikendalikan oleh segelintir orang tetapi didistribusikan secara adil.
Ketika riba dihancurkan dan digantikan dengan sedekah brutal, maka akan tercipta masyarakat yang sejahtera, tanpa eksploitasi dan tanpa penindasan.
Surga bukan hanya di akhirat, tetapi bisa diwujudkan di dunia dengan menjalankan ekonomi yang adil, tanpa riba, dan penuh dengan kepedulian sosial.
Allah menjanjikan keberkahan bagi mereka yang menegakkan sistem ini:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. Al-Baqarah: 261)
Revolusi Melawan Riba, Membangun Masyarakat Berkeadilan
Perlawanan terhadap otoritarianisme dan imperialisme tidak bisa hanya dilakukan dengan protes politik, tetapi harus dilakukan dengan menghancurkan sistem riba dan menggantinya dengan sistem ekonomi berbasis sedekah dan distribusi kekayaan yang adil.
Dengan memerangi riba dan menggencarkan sedekah brutal, kita tidak hanya menegakkan keadilan, tetapi juga membangun dunia yang lebih berkeadilan—sebuah surga egaliterian di mana tidak ada lagi yang tertindas oleh ekonomi, dan kekayaan mengalir untuk semua.
Jihad ekonomi bukanlah tentang perang fisik, tetapi tentang menghancurkan sistem yang menindas dan menggantinya dengan keadilan berbasis kasih sayang dan keberkahan.