Dalam sebuah wawancara Ian menuturkan bahwa dirinya sangat terkejut saat dia diberitahu bahwa proyek yang dikerjakan adalah Spiderman. Dia mengaku saat diberitahu di bulan September 2021 soal proyek ini dia memiliki perasaan campur aduk.
“Ini September (2021) lho, dan filmnya rilis Desember. Semangat, takut, bahagia. Ini saya bahagia bangetkarena beneran ngerjain proyek Spiderman,” ucapnya dikutip dari VOA Indonesia.
Ian sendiri diketahui merupakan seorang yang bekerja di perusahaan efek visual Secret Lab yang berada di Hollywood, Los Angeles. Di Spiderman: No Way Home, dia mengerjakan salah satu adegan Green Goblin.
“Saat pertama kali dikasih, saya dikasih sequenceGreen Goblin tanpa topeng. Jadi di situ William Defoe hanya memakai pakaian trackerdi mana kostumnya nanti kita yang buat. Aku sendiri ngerjain di bagian shadingsupaya nantinya si kostum ini terlihat bahan yang digunakan misalnya terbuat dari metal, jadi detailnya bisa kelihatan,” ujarnya.
Selain itu Ian juga mengaku karena deadline-nya mepet, maka dia dan timnya benar-benar banting tulang untuk mengerjakan proyek tersebut.
“Kliennya kan Marvel, mereka punya standar tinggi. Itu tuhdikerjain militant 7 hari seminggu. Lebih dari 12 jam kerja juga sehari,” lanjutnya.
Ian juga mengaku sangat senang dengan hasil kerja kerasnya yang turut membantu kesuksesan dari film Spiderman: No Way Home. Dia mengaku terharu dan juga mengingat betul bagaimana susahnya dia mengerjakan proyek tersebut.
Sudah Suka dengan Animasi Sejak Kecil
Ian mengakui jika dia tertarik dengan animasi sejak kecil. Namun baru saat SMA dia mengetahui jika ada pekerjaan untuk seorang yang suka dengan animasi. Dia kemudian kuliah animasi komputer di Seattle & Florida, AS. Kemudian dia pindah ke Los Angeles untuk bekerja.
“Jujur saja saya juga masih suka cari tutorial di Youtube, asalkan terus belajar aja sihkita pasti bisa kok,” ucapnya.
Adapun selain Spiderman: No Way Home, salah satu 3D artistIndonesia ini juga turut mengerjakan Thor: Ragnarok, Doctor Sleep, dan Mortal Kombat.
Di samping itu, Ian juga menuturkan keinginannya kembali ke Indonesia, namun dia merasa harus menimba ilmu dan pengalaman lebih banyak lagi di Los Angeles.