Poto (Kompas.com)

Fenomena Bediding “Suhu Terasa Lebih Dingin” Ini Penyebabnya!

JEVPEDIA – Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami suhu yang lebih dingin dari biasanya.

Terutama, dirasakan mereka yang tinggal di wilayah Jawa-Bali.

Sejumlah warganet di media sosial mengunggah tangkapan layar aplikasi cuaca yang menampilkan suhu di daerah mereka berkisar antara 14-23 derajat celsius.

Selain itu, warganet asal Jawa Timur mengaku suhu di wilayahnya lebih dingin daripada mereka yang tinggal di Jawa Tengah maupun Jawa Barat.

“Dingin bgttt ya Allah,” tulis akun @maniakmie

Ia mengunggah twit disertai dengan foto suhu di Malang pada pukul 05.52 WIB yaitu 15 derajat celsius.

Suhu dingin juga dilaporkan warganet dari wilayah lainnya.

Saat dihubungi Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supari mengatakan, wilayah yang merasakan suhu dingin belakangan ini cukup merata terjadi di Pulau Jawa.

Fenomena suhu dingin yang terjadi belakangan ini disebut sebagai fenomena Bediding.

“Bediding adalah istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk menamai fenomena suhu udara dingin di malam hari saat musim kemarau,” ujar Supari.

Ia juga merinci suhu terendah yang tercatat pada sistem BMKG.

Ini rincian wilayah dengan suhu terendah menurut catatan BMKG:

  • Suhu minimum di Stasiun Geofisika Pasuruan berkisar 14-15 derajat celsius.
  • Suhu minimum di Stasiun Geofisika Bandung, berkisar 17-18 derajat celsius.
  • Suhu minimum di dataran rendah seperti Semarang dan Cilacap, berkisar 23 derajat celsius.

Supari menjelaskan, hal ini berkaitan dengan mulainya musim kemarau.

“Karena memang secara spasial musim kemarau kan masuknya (awal musimnya) dan juga puncaknya itu bergeser dari arah NTT ke NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, lalu ke Jawa Barat,” ujar Supari.

“Jadi, Jawa Timur akan mengalami lebih awal dari Bandung maupun Jawa Tengah,” lanjut dia.

Tak hanya di Jawa, fenomena bediding juga dialami di beberapa wilayah di Indonesia.

Wilayah yang biasanya mengalami fenomena bediding merupakan wilayah yang tipe hujannya monsunal, yaitu yang pola hujannya mengalami puncak di sekitar bulan Desember-Januari-Februari dan mengalami kondisi kering (hujan minimal) pada Agustus-September-Oktober.

Wilayah yang termasuk tipe hujan monsunal yakni pada Indonesia bagian selatan, yaitu: Sumatera Selatan

  • Lampung
  • Pulau Jawa
  • Pulau Bali
  • NTB NTT

Ada pula spot-spot kecil di Pulau Jawa yang memiliki pola hujan yang berbeda. Namun, secara umum, sebaran wilayah tipe hujan monsunal seperti yang dijelaskan di atas.

Apa yang menyebabkan suhu terasa lebih dingin?

Penjelasannya, saat memasuki musim kemarau, udara pada malam hari akan terasa sangat dingin karena Bumi melepaskan sebagian besar energi panas yang diserapnya pada siang hari.

“Yang membedakan adalah, saat musim kemarau umumnya cuaca cerah, langit bersih dari awan,” ujar Supari.

Hal ini menyebabkan energi yang dilepaskan oleh Bumi pada malam hari dapat lepas ke atmosfer bebas, tanpa terhalang awan. Proses melepas energi oleh Bumi pada malam hari adalah fenomena reguler yang terjadi setiap hari.

Hanya saja, jika langit sedang banyak awan, energi yang dilepaskan ini terperangkap, dan akibatnya suhu permukaan Bumi terasa lebih hangat atau tidak mengalami bediding.

Fenomena bediding bakal terjadi sepanjang musim kemarau, dan akan terasa lebih dingin ketika puncak kemarau saat kondisi langit benar-benar cerah dalam waktu yang lama (pembentukan awan sangat minim).

“Untuk puncak musim kemarau mungkin tidak spesifik jatuh pada tanggal. Apalagi musim di Indonesia kan tidak seragam. Tapi secara umum September biasanya mengalami curah hujan paling rendah,” ujar Supari.

 

 

 

Sumber : (Kompas.com)

Check Also

Ferdinand Hutahaean Dipolisikan Terkait Cuitan ‘Allahmu Lemah’

JEVPEDIA.COM – Ferdinand Hutahaean¬†dilaporkan ke kepolisian oleh organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Makassar, Sulawesi Selatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *